7 Lokasi Dijadikan Tempat Untuk Ujicoba Program Solar Bagi Nelayan

7 Lokasi Dijadikan Tempat Untuk Ujicoba Program Solar Bagi Nelayan – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan Program Solusi Nelayan (Solar untuk Koperasi Nelayan) sudah siap untuk diujicobakan di Kampung Nelayan Desa Kedung Cowek, Bulak, Surabaya, Jawa Timur.

Hal itu disampaikan MenKopUKM Teten Masduki saat meninjau kesiapan lokasi percontohan di Surabaya (14/9/2022).

Dalam rapat koordinasi Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian BUMN dan PT Pertamina yang diadakan di Kementerian BUMN, senin (5/9/2022), uji coba akan dilakukan di 7 wilayah selama tiga bulan, lokasi tersebut yaitu Surabaya, Indramayu, Semarang, Pekalongan, Aceh Besar, Deli Serdang, dan Lombok Timur. Untuk kedepannya Ini juga akan diperluas ke seluruh Indonesia.

“Kita ingin nanti para nelayan bisa membeli solar sesuai harga SPBU bukan harga dari pengecer, sehingga margin pendapatan nelayan akan bertambah dan semakin sejahtera,” ujar Teten dalam siaran pers.

Teten menjelaskan, nantinya koperasi nelayan akan menjalankan SPBU khusus untuk nelayan. Pengurus koperasi harus mendaftarkan anggota agar BBM yang dipasok PT Pertamina (Persero) selanjutnya tepat sasaran.

“Nanti yang bisa dapat BBM solar harus yang terdaftar di koperasi. Nah ini tugas dari koperasi nelayan untuk memastikan anggotanya untuk disiplin supaya teratur,” ujar Teten.

Dengan adanya SPBU khusus untuk nelayan, Teten berharap dapat mempermudah dan mempercepat nelayan mendapatkan BBM. Hingga saat ini, sekitar 60% biaya produksi nelayan digunakan untuk membeli bahan bakar.

Untuk itu, mudahnya memperoleh BBM murah dengan harga resmi yang ditetapkan Pertamina, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya praktis untuk menekan biaya produksi nelayan.

Sementara itu, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga, Jatimbalinus Deny Djukardi menambahkan, di lokasi tersebut belum ada SPBU untuk nelayan. Keberadaan SPBU bagi nelayan penting untuk memungkinkan nelayan membeli solar dengan harga resmi di masa mendatang.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM), Teten Masduki bertemu nelayan.

KemenKopUKM Menteri Koperasi Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM) Saat berbincang dengan Nelayan

Untuk mempercepat realisasi pembangunan Pertashop khusus nelayan, diperlukan persyaratan pengelolaan yang berbeda. Untuk itu, Deny menginginkan agar para Nelayan, anggota koperasi, segera memenuhi persyaratan administrasi.

“Kami perlu data-data terbaru dari para anggota koperasi. Memang kemarin ada beberapa kendala tapi saat ini sudah ada solusinya. Intinya dari Pertamina mendukung sekali untuk bisa melayani nelayan untuk mendapatkan BBM bersubsidi tepat sasaran dan tepat guna,” kata Deny.

Muhammad Sukron, Ketua Koperasi Bahari 64, mengatakan para nelayan selama ini mengeluhkan kurangnya BBM murah. Karena jarak SPBU jauh, nelayan harus membeli barang dengan harga lebih tinggi di Pengecer.

Untuk solar, nelayan mendapatkan harga dari pengecer dengan harga rata-rata Rp 10.000 – Rp 11.000 per liter dan jenis pertalite Rp 12.000 per liter. Harga solar resmi yang ditetapkan Pertamina adalah Rp 6.850 dan jenis Petalite Rp 10.000 per liter.

“Dengan adanya SPBU khusus bagi nelayan yang dikelola koperasi ini menurut saya akan menjadi langkah konkrit untuk memberikan solusi bagi temen-teman nelayan dalam mendapatkan BBM. Selama ini permasalahan kami hanya soal BBM,” ujar Sukron.

Skron menjelaskan, rata-rata kebutuhan BBM harian seorang nelayan sekitar 5 liter. Dia optimistis SPBU mini yang dikelola koperasi itu akan memungkinkan Pertamina memenuhi kebutuhan BBM murah untuk Nelayan.

“Kebutuhan BBM solar ini sangat berdampak luar biasa bagi teman-teman nelayan di samping itu jarak melaut kita semakin jauh sehingga ongkosnya bertambah. SPBU nelayan ini akan jadi solusi yang tepat bagi nelayan,” ujarnya.

Di tempat yang sama,  Direktur SME PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Amam Sukriyanto mengungkapkan komitmennya membantu nelayan mendapatkan uang murah. BRI memiliki kewenangan untuk ikut menyukseskan  Program Solusi Nelayan.

Untuk itu, pihaknya siap menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada nelayan untuk melengkapi alat tangkap atau memenuhi kebutuhan produksi lainnya.

“Kami memiliki satu produk bernama KUR yang sangat bisa untuk memenuhi kebutuhan nelayan dalam pengelolaan hasil tangkapannya. KUR ini masih disubsidi oleh pemerintah sebesar tiga persen,” ungkap Amam.