Menyikapi Kenaikan Harga BBM, Petani Bunga Di Batu Juga Ikut Menaikkan Harga Jualnya

Menyikapi Kenaikan Harga BBM, Petani Bunga Di Batu Juga Ikut Menaikkan Harga Jualnya

Menyikapi Kenaikan Harga BBM, Petani Bunga Di Batu Juga Ikut Menaikkan Harga Jualnya – Kenaikan harga BBM juga mempengaruhi harga bunga mawar asal Desa Gunungsari, Kota Batu, Jawa Timur. Salah satunya adalah Ninik Arifah, pemasok bunga Andira Rose.

Ninik mengirim ribuan mawar ke Jakarta tiga kali seminggu. Saat ini harga per bungkus 20 kuntum bunga mawar adalah Rp. 50.000. Sebelum harga BBM naik, bunga tersebut dijual seharga Rp. 35.000 per buket.

Kenaikan harga tersebut disebabkan adanya penyesuaian tarif angkutan jasa ekspedisi.

Ninik mengatakan pada Senin (9 Desember 2022) “Ongkos pengirimannya itu juga naik, setiap koli (1000 tangkai) naik jadi Rp 120.000 yang sebelumnya Rp 100.000.”

Berbagai jenis mawar yang dijual, seperti mawar putih dan merah semi-Belanda dan jenis mawar lainnya. Sementara itu, harga saat ini untuk mawar yang dijual dari petani ke bisnis mulai dari Rp. 600 hingga Rp. 1.000 per batang, tergantung kualitasnya.

“Kirimnya satu minggu dua sampai tiga kali ke Jakarta. Sekali kirim bisa satu truk. Ada sekitar 40 petani yang kirim ikut saya,” ujarnya.

Petani mawar Hadi Rahman (51) mengatakan kenaikan harga bahan bakar terpenaruh terhadap biaya operasional saat ini. Setiap kali menyirami kebun mawar, membutuhkan 1 bensin pertalite.

“Petani kalau menyiram pakai mesin pompa, seminggu dua kali. Setiap nyemprot kebutuhannya satu liter, lahan saya luasnya 1600 meter persegi. Ya terasa, harganya naik, biaya operasional juga ikut naik,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga BBM menjadi beban berat bagi Petani bunga. Hal ini disebabkan meningkatnya biaya operasional disertai kenaikan biaya obat-obatan pertanian sebelumnya.

Seminggu sekali, ia harus menyemprot kebun mawar yang biayanya sekitar Rp. 500.000.

Hadi sebenarnya memiliki Kartu Tani yang dapat memudahkan kebutuhan operasional seperti mendapatkan subsidi pupuk. Namun, dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menggunakan Kartu Tani sesuka hati.

“Pemerintah pilih-pilih, Kartu Tani hanya bisa dipakai untuk petani yang pertanian pangan. Kami juga inginnya pupuk subsidi kualitasnya bagus, sekarang pupuk (yang tidak subsidi) harganya satu sak bisa sampai Rp 1.000.000,” ujarnya.

Hadi berharap mendapat bantuan pemerintah agar usaha pertaniannya tetap berjalan. Ia juga mengaku tidak menerima BLT BBM sebagai warga terdampak.

Ujarnya “Kalau bantuan setiap setahun sekali biasanya dapat bantuan obat pertanian, walaupun sekali tapi sedikit membantu, tapi tahun sekarang belum lagi.”

Hadi mengatakan kebun mawarnya bisa menghasilkan 400 bunga mawar sekaligus. Harga setiap mawar yang dijual juga tergantung pada momen tertentu.

“Kalau banyak hajatan seperti pernikahan itu setiap tangkai bisa harga Rp 1.500, tapi kalau bulan puasa itu drop-dropnya petani bunga tapi cuma sebentar karena enggak banyak acara juga,” ujarnya.