Sekitar 73% Anak Muda Indonesia Ingin Menjadi Pengusaha 

Sekitar 73% Anak Muda Indonesia Ingin Menjadi Pengusaha 

Sekitar 73% Anak Muda Indonesia Ingin Menjadi Pengusaha – Perguruan tinggi berperan penting dalam mendorong perkembangan kewirausahaan di Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki pada webinar Universitas Garut bertajuk  “Bagaimana Membangun Ketahanan dan Pertumbuhan UMKM Hingga Mampu Melalui Disrupsi”, yang diselenggarakan di Jakarta.

Ujar Teten dalam siaran pers yang diterima Kompas.com. “Menjadi penting kita bekerja sama dengan universitas untuk mendorong evolusi kewirausahaan dari UMKM yang masih dalam skala ekonomi subsisten atau hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi UMKM yang memiliki produk berbasis inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahun.”

Setiap tahun Indonesia memiliki angkatan kerja baru sebanyak 3,5 juta lulusan dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, 1,7 juta adalah sarjana. Jika ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5% per tahun, hanya bisa menciptakan 2 juta lapangan kerja.

Menanggapi hal tersebut, Teten berpendapat bahwa perguruan tinggi harus mengubah kurikulum dengan menghasilkan lulusan yang ingin menjadi wirausaha, bukan lulusan yang ingin menjadi PNS atau Pegawai Swasta.

Teten juga mengatakan, menurut data KemenKopUKM, saat ini 73% dari total penduduk Indonesia ingin menjadi pengusaha, bukan pegawai lagi.

Selain itu, menurut penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lebih dari 70% anak muda mengatakan ingin menjadi pengusaha.

“Ini menjadi bahan penting bagi perguruan tinggi untuk meredesain terutama fakultas bisnis dan ekonomi guna menyiapkan entrepreneur. Karena itu perguruan tinggi penting untuk menyiapkan para pelaku UMKM kita yang lebih berkelas,” ujar Teten.

Pada saat yang sama, KemenKopUKM juga merupakan program 1 juta pengusaha baru. Pasalnya, meski jumlah usaha kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia sudah melebihi 64 juta, namun tingkat kewirausahaan di Indonesia masih rendah atau hanya 3,18%.

Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat kewirausahaan minimum dari 3,95% menjadi 4% pada tahun 2024.

Oleh karena itu, Teten berpendapat bahwa perguruan tinggi harus mengembangkan penelitian dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan memanfaatkan program Matching Fund Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melakukan penelitian yang hasilnya dapat dikomersialisasikan kepada pelaku UMKM.

“Pascapandemi ini kita bukan hanya ingin pulih tapi bertransformasi. Bank Dunia juga sudah mengingatkan kita bahwa Indonesia harus menyiapkan lapangan kerja yang berkualitas,” ujar Teten.

Sebagai hulu untuk pendidikan mahasiswa dan pengembangan pengetahuan, Teten menambahkan bahwa Indonesia dapat menjadikan University of Melbourne sebagai best practice untuk memperkenalkan Business Innovation Institute yang berfokus pada pengembangan UMKM.

University of Melbourne juga menawarkan pelatihan pemikiran desain untuk mahasiswa, mulai dari studi kelayakan bisnis, pengembangan produk, hingga international shipping atau ekspor internasional, untuk membantu lulusan mengembangkan bisnis yang dibimbing oleh alumni.

Untuk memperkuat kerjasama, KemenKopUKM telah bermitra dengan beberapa perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi koperasi dan UMKM melalui pendidikan, pendampingan, pelatihan vokasi, pengabdian masyarakat dan program mandiri kampus, serta mendorong lembaga inkubator di kampus menjadi UMKM.

Sementara itu, Abdusy Syakur Amin, Rektor Universitas Garut, mengatakan UMKM harus memperkuat diri agar dapat bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan yang muncul baik di dalam maupun luar negeri.

Melalui webinar ini, ia juga berharap dapat menghasilkan ide-ide yang dapat diterapkan pada pelaku UMKM.

Abdusy mengatakan, “Semoga acara ini memberikan pencerahan dan wawasan baru untuk membantu UMKM untuk bertahan dan berkembang ke depannya.”